DI BALIK BAYANGAN IMPIAN
Ketika lulus Skripsi dengan predikat Sangat Memuaskan, dari Universitas Jember tahun 1998, rasaku bahagia, pikiranku melayang jauh ke kota yang bernama Jakarta. Mengapa tidak, begitu dinyatakan lulus, dosen pembimbingku memberikan sebuah rekomendasi untuk menemui temannya yang tinggal di Bekasi. Beliau adalah salah seorang dosen di Universitas Uhamka Jakarta, dan kata temannya membutuhkan seorang asisten dosen pada jurusan Ilmu Administrasi Niaga. Inilah awal saya hidup di Bekasi.
Rasa senang tidak terbendung. Kemudian saya memberitahukan kabar baik ini pada bapak dan ibuku di kampung. Mendengar hal itu, ibuku sangat bahagia dan berusaha mendandani diriku dengan membelikan pakaian untuk mengajar. Maklum, ketika masih menjadi mahasiswa gaya tomboy selalu mewarnai setiap hari-hariku. Ibuku ingin anaknya yang akan menjadi asisten dosen, dapat merubah semua gaya tomboynya dan berubah menjadi layaknya seorang pengajar yang tampil anggun.
Bulan Juni, saya berangkat ke Jakarta dengan tujuan mengejar mimpi seperti yang direkomendasikan oleh dosenku. Segala sesuatu sudah dipersiapkan, dan berangkatlah saya dengan sebuah kepastian.
Tibalah saya di Bekasi. Saya tinggal dengan adik dan kakakku yang terlebih dahulu sudah tinggal dan bekerja di Bekasi. Keduanya bekerja di perusahaan sesuai dengan tempat tinggal kami di komplek kawasan perusahaan. Rasa hatiku mulai bingung, karena tidak tahu harus apa dan bagaimana menjalani hidup, apalagi mencari sebuah alamat yang sama sekali tidak saya ketahui. Kedua saudaraku juga sibuk bekerja.
Cerita demi cerita, ada seorang tetangga kost yang bersedia untuk membantu mencarikan alamat yang ternyata lokasinya jauh di kota Bekasi. Dengan berbekal kendaraan umum dan ojeg, kutelusuri jalanan dengan alamat yang ada di tanganku. Alhamdulillah, sampailah diriku bertemu dengan sahabat dosenku.
Kamipun berbincang-bincang sambil menikmati sajian yang disuguhkan oleh tuan rumah. Tak lama teman dosenku bertanya, ada hubungankah saya dengan dosenku, yang bernada becanda tapi menurutku kurang pas di hati. Saya cermati apa makna perkataan beliau yang dilontarkan sambil bercanda. Hatikupun sedih, memangnya seseorang kalau mau menolong harus ada hubungan spesial kali ya. Lama saya berbincang, dan akhirnya saya mengundurkan diri untuk pamit selamanya dan tidak mau lagi datang dan menjadi asisten dosen bagi teman dosenku itu. Ich, genit...
Pulang ke tempat kost membuat hatiku turus putus asa. Karena apa yang diimpikan kandas di tengah jalan, karena sebuah pemikiran yang berbeda denganku. Lama saya termenung, nggak mau menikmati hidangan yang sudah disajikan oleh adik dan kakakku. Hari pun berganti dan waktu terus berlalu, karena menolak menjadi asisten dosen genit, akhirnya saya pun menganggur menikmati kebebasan hidap tanpa beban bekerja. Namun ketika menjelang lebaran, saya pun merasa gelisah kerena pulang ke kampung tidak punya uang.
Dibantu oleh tetangga kost yang selalu setia menemani ke mana langkahku pergi, kami berdua pun menelusuri kawasan mencari-cari siapa tahu ada lowongan kerja. Lumayan gajinya buat sangu lebaran. Alhamdulillah, nasib baik ada di tanganku. Ada lowongan kerja dan harus test esok paginya. Kujalani test tertulis masuk perusahaan dan diterima sebagai karyawan tetap sebuah perusahaan milik Jepang. Saya pun bekerja di perusahaan di daerah Cibitung. Yang penting saya bisa dapat uang untuk kehidupan sehari-hari, biar tidak tergantung pada kedua saudaraku.
Waktupun berlalu, tak terasa sudah enam bulan saya bekerja di perusahaan. Dari situ saya pun pindah bekerja di perusahaan Singapura sebagai seorang Purchasing. Kakakku ingin ada perubahan hidup pada kami, jika terus tinggal di kawasan pastinya akan selamanya bekerja di perusahaan dan akhirnya jodoh pun juga orang-orang yang bekerja di perusahaan juga. Seperti pepatah “WIting Tresno Jalaran Soko Kulino tur Ora Ono Liyo”
Pindahlah saya dan kakakku di perumahan Margahayu, mulailah hidup baru dan masih tetap bekerja di perusahaan, namun teman bergaulnya berganti. Mungkin karena kakakku sedang kuliah di UNISMA sehingga akan lebih dekat bila pulang kuliah. Waktupun berlalu, sampai suatu hari ada rasa jenuh bekerja di perusahaan dan ingin berganti profesi.
Saya pun berusahan mencari lowongan pekerjaan di koran dan menemukan sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi yang membutuhkan tenaga pengajar. Jadilah saya seorang dosen. Kebetulan pertama saya mengajar adalah mata kuliah Manajemen Resiko. Untungnya pelajaran itu sudah pernah kutempuh saat kuliah dulu. Untuk itu saya tidak mengalami kesulitan dalam mengajar.
Dalam mengajar, ada pertemuan antar dosen, saya pun berkenalan dengan dosen-dosen muda yang hebat. Persahabatan berlanjut, ternyata dari keempat dosen sahabatku ada yang satu alumni kuliah dengan lulus terbaik saat diwisuda. Satu temanku yang lain adalah alumni satu SMA, sehingga membuat kita berlima menjadi akrab dan selalu berkumbul membicarakan hal-hal yang menyangkut kegiatan pembelajaran di sekolah tinggi tersebut.
Selain mengajar, kami pun diwajibkan untuk mengikuti kuliah Magister Manajemen, yang diselenggarakan oleh kampus itu juga. Tapi rasanya kurang pas pada materi yang disajikan, sehingga membuat kami berlima sering meninggalkan ruang bangku kuliah, dan duduk berkumpul untuk sekedar ngobrol saja. Saya mengajar di tiga perguruan tinggi yang berbeda. Sebagai dosen MKDU di ABA Jakarta dan STIE Pondok Bambu lama-lama membuatku lelah.
Rasa jenuh menjadi dosen pun menjalar di tubuhku, karena jarak yang terlalu jauh setiap harinya, maka saya pun berkeluh kesah pada ibu dan bapak kostku yang saat itu adalah seorang manajer di PT Nindia Karya. Mendengar keluhanku, maka ibu kostku yang sangat sayang padaku, mengajakku datang ke rumah tetangga yang menjadi guru di SMK YPI 45 Bekasi. Dan sungguh di luar dugaan, keinginanku untuk mengajar SMK terwujud. Hanya dengan melihat ijazah yang saya miliki, maka besoknya saya langsung suruh datang ke sekolah untuk menemui kepala sekolah SMK YPI 45.
Mulai saat itu, saya menjadi guru Akuntansi Produksi, Perpajakan, dan Manajemen Pemasaran di SMK YPI 45 Bekasi. Banyak hal yang harus saya pelajari menjadi seorang guru SMK yang betul-betul awam bagiku. Guru-gurunya pun sedikit banyak memberikan masukan terutama bagaimana bersikap menjadi seorang guru, yang sama sekali belum pernah saya pelajari. Rasa canggung mengajar di dalam ruangan yang siswanya empat puluh, terkadang menbuatku sedikit kewalahan.
Satu tahun berikutnya, karena kegiatan pramuka, saya pun merambahkan kaki untuk mengajar di SMA YPI 45. Maka jadilah saya guru SMK dan SMA secara bersamaan dengan membagi waktu secara bergantian. Menjadi guru merupakan hal yang tidak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Sikap dan tutur kata sangat diperhatikan oleh siswa-siswinya yang sudah besar. Mengajar di bangku kuliah berbeda dengan di SMK atau SMA. Itulah awal saya menjadi seorang guru.
No comments:
Post a Comment