BAPAK Drs. MELAN ACHMAD ADALAH IDOLA DAN INSPIRASIKU
Oleh : Dewi Hajarwati, S.Pd
Bapak Melan Achmad adalah sosok guru yang luar biasa tangguhnya, baik di sekolah sebagai seorang guru maupun di rumah sebagai seorang ayah bagi anak-anaknya. “Bapak selalu menanamkan pada anak-anaknya bergaullah dengan orang yang baik, maka kamu juga akan menjadi orang yang baik juga. Tapi bila kamu salah dalam memilih teman, maka hidupmu akan terperosok sendiri. Masa depan ada di tanganmu masing-masing, maka ukirlah dengan baik sesuai apa yang kamu cita-citakan. Bapak tidak bisa mewarisi harta, tapi hanya bisa mewarisi ilmu. Kelak dengan ilmu itu, kamu akan bisa mendapatkan apa yang kamu inginkan”
Sosok bapak tidak pernah mengeluh di depan mata anak-anaknya. Hidup sebagai seorang guru yang pada saat itu gajinya masih sangat kecil, tapi mampu menghidupi dan menyekolahkan anak-anaknya yang berjumlah lima orang. Kami semua tidak pernah diberitahu dari mana orang tua mendapatkan uang, yang penting bagi anak-anak tugasnya belajar dan membantu pekerjaan di rumah dan dilakukan secara bersama-sama dengan saudara semua.
Saya melihat sosok seorang guru dari bapakku, yang berangkat pukul 06.00 dan pulang ke rumah pukul 17.00. dari kecil saya hanya tahu kalau mengejar itu masuk pukul 07.00 seperti layaknya saya sekolah. Tapi karena sekolah di mana bapakku mengajar jauh yaitu di Kutoarjo tepatnya di SMPN 5 Kutoarjo jauh dari rumah kami di Purworejo makanya pulangnya sampai sore. Setiap hari bapakku naik bus ketika berangkat dan pulang mengajar. Tidak lupa membawa bekel nasi hasil olahan masakan ibuku di rumah. Ibu selalu memasak untuk sarapan kami semua, juga untuk bekel bapak berangkat ke sekolah.
Ternyata setelah selesai mengajar di SMPN 5 Kutoarjo, bapak masih mengajar lagi di SMK II Kutoarjo sebagai guru Matematika. Sungguh luar biasa perjuangannya dalam menghidupimencukupi keluarganya harus mengajar lebih dari satu sekolah. Padahal menjadi Pegawai Negeri Sipil, tapi ternyata masih harus bekerja tambahan agar semuanya dapat tercukupi. Belum di rumah, masih ada warung yang dijaga oleh ibuku sebagai tambahan hidup.
Terkadang bapak juga masih mengajar les matematika bagi siswa-siswinya di SMK. Karena bapak mengajar matematika kelas 12 sebagai persiapan untuk Ujian Nasional. Kesabaran dan kepiawaiannya dalam mengajar Matematika membuat siswanya sangat senang bila diajar bapak. Ketulusannya dalam mengajar sungguh luar biasa. Bagaimana tidak terkadang ada siswanya yang ikutan les bilang, “Pak Melan, Saya boleh ikut les, tapi bayarnya kalau udah panen padi ya,” kata siswanya kepada bapak. Bapak tetap mempersilakan siswanya untuk tetap mengikuti pelajaran matematika yang diajarkan sebagai pelajaran tambahan.
Ada juga yang bilang, “Pak Melan, saya mau ikut les. Nanti bayar kalau sudah punya uang ibu saya.” Katanya penuh harap. Bapakpun tetap mempersilakan siswanya untuk mengikuti les. Dalam kegiatan tambahan pelajaran, ada yang membayar uang les, tapi ada juga siswanya yang tidak membayar setelah selesai belajar bahkan sampai lulus. Tapi semua diterima penuh keikhlasan. Tidak pernah membicarakan ataupun mengingkitnya. Sungguh luar biasa bagiku. Keteladan bapak sebagai seorang guru penuh ikhlas dalam mengajari siswa-siswanya, merupakan panutan siapa saja, khususnya panutan bagi rekan sejawat dan siswa-siswinya.
Sebagai guru yang menjalani profesinya secara sungguh-sungguh dan penuh keikhlasan mengantarkan bapak sebagai Guru Teladan atau Guru Berprestasi tingkat Kabupaten Purworejo. Sungguh prestasi yang dapat dibanggkan oleh semua orang dan saya pribadi sebagai anaknya. Tidak itu juga, karena kesabaran dan dedikasi yang tinggi, bapak juga dipilih sebagai ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) wilayah Kutoarjo, Kabupaten Purworejo.
Prestasi yang ditorehkan sebagai guru sungguh luar biasa. Bapak dijadikan sebagai guru inspirasi bagi semua orang. Ide dan buah pikirannya selalu dijadikan bahan pertimbangan oleh siapa saja, baik di sekolah maupun di lingkungan masyarakat. Sampai-sampai di masyarakat sekitar rumah, bapak dipilih sebagai Ketua Rukun Warga (RW) 04 di Kampung Brenkelan, Purworejo.
Kini, bapak sudah pensiun, namun semangat bekerja masih terus bergelora di dada beliau. Pantang menyerah selalu optimis dan membuat terobosan-terobosan dalam berkarya. Di rumah, bapak tinggal bersama adikku laki-laki, namanya Agus Saputro. Setelah lulus kuliah dari Universitas Gajah Mada dan menikah, adikku membuka usaha kuliner yaitu Raja Jamur Krispi. Dia selalu membuka lapaknya di pinggir jalan Urip Sumoharjo.
Bapak selalu membantu dalam berjualan, meskipun sudah dilarang sama adikku untuk istirahat di rumah. Karena semangat kerja yang tinggi dalam membantu anaknya dalam menjajakan jualannya, membuat dagangannya viral se-kabupaten Purworejo. Bagaimana tidak, melalui sosial media Tiktok dan Tulisan di Instagram yang dibuat oleh siswanya yang sudah lulus. Karena berita dari sosial media itu, menjadikan warung lapak Raja Jamur Krispi menjadi benar-benar viral.
Banyak siswanya yang datang hanya sekedar ingin melihat dan bersilaturahmi dengan membeli jamur krispi yang dijajakan bapak. Ada juga yang datang menangis melihat gurunya dulu sekarang hidupnya sebagai penjual jamur di pinggir jalan. Mereka sangat prihatin, karena bapak pensiunan guru masih bekerja untuk menghidupi keluarganya dengan menjajakan jamur krispi.
Sebetulnya bukan hanya untuk bekerja memenuhi hidup, tapi bapak bekerja keras untuk memberikan contoh kepada anak laki satu-satunya bagaimana untuk berdagang yang solid, juga memberikan semangat, ide-ide yang cemerlang dalam meningkatkan penjualan.
Keteladanan bapak Melan Achmad, sungguh membuat saya sebagai anak sangat terinspirasi. Bagaimana tidak, meskipun sudah pensiun dari ASN dan sebagai seorang guru yang berprofesi sama seperti saya, tapi semangat untuk berjuang dan berkarya masih tetap di jalankan. Di mana orang yang seusianya sudah banyak yang sakit dan juga ada yang sudah meninggal dunia. Alhamdulillah, bapakku tetap enjoy dan masih semangat dalam berkarya di usianya yang ke-75. Tetap semangat bapak dan semoga selalu sehat...aamiin
No comments:
Post a Comment