Sunday, October 17, 2021

BILA MULUT TAK MAMPU BERKATA

 

BILA  MULUT TAK MAMPU BERKATA

 


 Siang itu, ketika orang-orang sedang berkumpul di ruang pertemuan, Dewi datang dengan wajah berseri-seri.  Di tangannya terdapat buku bersampul merah dengan hiasan bunga mawar di atasnya. Sungguh indah untuk dipandang siapapun.  Dengan penuh semangat, Dewi  menghampiri kerumunan yang sedang asyik bercanda sambil menikmati sepiring pisang goreng.   Romi  membawa bekal pisang goreng ke sekolah untuk sarapan hari ini. Mereka bercengkrama dengan asyiknya membahas nanti saat  berwisata ke Malang dan gunung Bromo.

Teman-temannya diajaknya untuk  ngriung dalam  membicarakan masalah liburan yang akan diselenggarakan minggu depan.  Waktu pelaksanaannya tinggal sebentar lagi.  Rencana untuk berlibur di  kota ini, sudah lebih dari empat tahun. Semua sudah mempersiapkannya dengan menabung demi meringankan besarnya biaya yang akan dikeluarkan. Persiapanpun betul-betul sudah dilakukan tanpa kurang suatu apa.  Ada yang sudah membeli switer, jaket, dan baju baru untuk perjalanan wisata. Sengguh persiapan yang luar biasa bagi kami.

Mendengar kota Malang membuat seluruh orang di ruangan itu menjadi bersemangat. Terbayang suasana daerah Malang yang dingin dan penuh eksotis. Memetik buah apel sendiri dan langsung memakannya merupakan cita-cita dari semua teman-teman, terutama bu Ety sejak lama. Mungkin karena mayoritas tempat tinggal mereka di daerah Jawa Barat,  di samping itu mereka belum pernah melakukan perjalanan jauh dengan naik kereta api.  Ada juga yang sama sekali belum pernah pergi ke luar wilayah  Jawa Barat.

Dewi  mencatat siapa saja yang akan mengikuti kegiatan liburan  ini. Di datanya semua orang  beserta keluarganya dengan penuh antusias.  Satu persatu temannya ditanya, berapa jumlah orang keluarganya yang akan ikut kegiatan liburan ini.   Setelah selesai  masuk dalam daftar list pemberangkatan,  Dewi segera mengeluarkan hand phonenya dan mencari nomor seseorang untuk dihubungi.  Tidak lama kemudian hand phonepun sudah terhubung pada seseorang di seberang. Dengan cepat Dewi menanggapi hand phonenya yang sudah tersambung.

            “Dik,  Bagaimana urusan rute perjalanan dan penginapannya?”

            “Tujuannya, kota Batu, Malang, dan gunung Bromo, kan?,” kata Dewi pada hand phonenya. 

            “Ok, terima kasih banyak,” jawaban terakhir Dewi pada hand phone, lalu mematikannya.

Semua orang yang berada di ruangan itu terlihat serius mendengarkan percakapan Dewi dengan adikknya di kota Malang.  Tak berapa lama hand phonepun kembali dikantonginya. 

Dengan senyum puas Dewi mulai menceritakan apa saja yang sudah dibicarakan dengan adiknya kepada seluruh orang di ruangan itu.  Semua mendengarkan penuh antusias, Anna mendengarkan sambil tersenyum-senyum, sedangkan bu Ary terlihat serius, mungkin penasaran sekali dengan apa yang dibicarakan Dewi dan adiknya tadi.  Setelah mendengar penjelasan kegiatan wisata sampai selesai membuat hati bahagia menyelimuti semua orang.

“Horee,”  “Jadi dong kita semua jalan-jalan ke Malang dan Bromo,”seru Romi dengan senyum puas.

“Gini, teman-teman….”

“Nanti siang saya mau beli karcis sama Anna dan yang lainnya juga boleh ikut,” kata Dewi kepada semua yang hadir.  Dikeluarkannya uang hasil pembayaran teman-temannya yang sudah terkumpul. Terlihat uang sudah dimasukkan amplop sesuai pos-pos keperluan, seperti biaya untuk tiket kereta, dan akomodasi selama liburan di Malang dan gunung Bromo.

Hari ini tinggal melakukan pembayaran lewat transfer kepada Nino travel. Travel milik teman adik Dewi yang diberi kepercayaan untuk mengurus semua keperluan dan rute perjalanan wisata.  Rute perjalanan dan tempat untuk menginap telah di share lewat whatsApp. Dengan cepat rute perjalanan dan tempat penginapan langsung diprint out  agar lebih jelas dalam membacanya.

“Siapa yang akan transfer nich?”

“Kamu saja ya, An,” kata Dewi pada Anna. sambil tersenyum riang

Semuanya telah mengumpulakan foto copy KTP dan foto copy kartu keluarga (KK) untuk membeli tiket kereta.    

Siang ini,  Dewi, Anna, Siti, dan bu Ety akan berangkat ke stasiun Senin untuk membeli tiket keberangkatan dan pulang ke kota Malang.  Mereka siap-siap berangkat dengan menggunakan sepeda motor. Bu Ety membonceng Dewi sedangkan Anna berboncengan dengan Siti.  Sepeda motornya akan diparkir ke stasiun Bekasi. Dari sini akan naik kereta KRL menuju Stasiun Senin.

Alhamdulillah, sudah sampai di stasiun Bekasi. Dengan cepat  Dewi dan semua temannya menuju loket pembelian karcis kereta KRL.  Dewi menuju loket, sedangkan yang lainnya menunggu di pintu masuk.  Dewi memberikan kartu tanda masuk peron kepada setiap temannya, dan mereka langsung menggesekkan barkot kartu pada gerbang masuk.  Mereka duduk di bangku panjang di ruang tunggu sambil makan gorengan.   Dengan antusias menunggu tibanya kereta yang akan membawa mereka ke stasiun Senin. 

Keretapun tiba, keempatnya lalu turun dari KRL kemudian keluar menuju loket pembelian tiket kereta antar kota. Mereka mengambil data pemesanan tiket yang terletak di depan loket.  Keempatnya mengisi data sesuai dengan KTP dan KK untuk mengisi data anak-anak. Sepuluh menit kemudian Dewi dan Anna mengantri pembelian tiket, sedangkan Siti dan bu Ety menunggu duduk pada kursi yang berderet di depan loket.  Lumayan panjang antrian pembelian tiket kereta antar kota.  Demi wisata ke Malang mereka rela antri, dan tidak terasa transaksipun  selesai.

Tiba-tiba  hand phone Dewi berdering. Dilihatnya siapa gerangan yang menelpon, alangkah senangnya bahwa yang menelpon adalah bu Immah atasannya.  Mungkin akan ikut satu kursi lagi, karena kemaren saat ditawari untuk ikut, bu Imah menganggukkan kepalanya.  Dengan hening semua teman-temannya mengikuti  pembicaraan  Dewi dengan atasan semua.  Hanya suara kereta api yang sesekali  lewat mengganggu pendengaran kami dan  suara orang lalu lalang dengan tujuannya masing-masing.  Suara Dewi sedikit berubah dalam nadanya membuat ketiganya penasaran.   Akhirnya dia menutup pembicaraannya di telpon dan  matanya terlihat berkaca-kaca.

Ketiga temannya merasa penasaran, karena saat awal menerima telpon tadi dia senyum senyum sedangkan dipenghujung nada berubah menjadi parau.  Ada apa gerangan yang terjadi melihat mata Dewi berkaca-kaca.  Bu Ety berusaha menenangkan Dewi dengan memelukkan. Semua temannya yang lain ikutan mengelus-elus tangan dan pundaknya sambil merasa penasaran apa isi  pembicaraannya.

Dengan susah payah Dewi menceriterakan percakapannya dengan bu Immah kepada ketiga teman-temannya.  Semua memperhatikan dengan seksama cerita yang dikemukakan olehnya.  Semua merasa bengong, hening tiada bicara meskipun lingkungan sekitarnya sangat ramai.

“Ya sudah, kita kembali ke kantor semua? Kata bu Ety sedikit sendu

“Tapi, KRL menuju Bekasi adanya pukul 13.00,” “terus, ini kartunya  juga sudah diisi pulsa kembali, bagaimana ini?” kata Dewi sambil menunjukkan kartu KRL jurusan Bekasi yang harus dikembalikan ke loket.

Jika mengembalikan kartu KRL ke loket, maka akan mendapatkan kompensasi uang kembali senilai Rp 10.000,00 tiap kartunya.  Mereka berembuk untuk menentukan kembali ke kantor naik bus atau tetap naik kereta KRL.  Tak berapa lama mereka meninggalkan ruang tunggu menuju pintu keluar.  Mereka akan naik bus untuk kembali ke kantor dan berjalan beriringan menuju halte bus  yang terletak di depan stasiun Senin.

Sepuluh menit berlalu, belum muncul juga bus yang membawa mereka ke Bekasi.   Perasaan gelisah menyelimuti keempat orang tersebut.   Dewi bolak-balik melihat arlojinya untuk memastikan waktu menunggu tidak berapa lama.  Akhirnya muncul juga bus berwarna hijau menghampirin mereka.  Dengan sigap keempatnya menaiki bus.  Dalam beberapa menit semua sudah duduk di bangku belakang bus. Hanya kursi belakang yang masih kosong, sedangkan kursi depan dan tengah sudah penuh dengan penumpang yang akan pergi ke Bekasi.

Tidak sepatah katapun yang keluar dari keempat orang tersebut.  Mereka duduk dengan pikiran masing-masing.  Dewi mulai membuka amplop yang sedari tadi ingin dibukanya yang berisi tiket semua orang yang akan berwisata ke Malang.  Melihat Dewi menghitung jumlah tiket kereta, membuat teman-teman yang lain ikutan membantu menghitungnya  dan mencocokkan dengan daftar list peserta wisata yang ikut.

Saking asyiknya bergulat dengan tiket-tiket itu, maka perasaan galau yang dari tadi terselip ketika di stasiun Senin hilang mendadak. Senyum merekah menghiasi perjalanan kembali ke Bekasi. Hanya Dewi yang masih murung wajahnya,  meskipun tangannya memegangin tiket.  Hanya senyum kecut yang dilontarkan kepada teman-temannya.  Dia sudah membayangkan apa yang akan terjadi dengan nasib mereka yang dipanggil mendadak oleh  atasan.

Setengah jam berlalu, kereta KRL pun  berhenti di stasiun Bekasi.  Dengan bergegas mereka turun dan menuju tempat parkir tanpa banyak bicara.  Secepat kilat sudah sampai di sekolah.  Lalu sepeda motornya diparkir di bawah pohon di samping kantor.  Terlihat ada mobil Avanza hitam terpakir tepat di depan kantor.  Keempatnya merasa bingung dan saling berpandangan satu sama lain.  Ternyata bu Immah sudah menanti di depan kantor dengan wajah tersenyum. 

Hati Dewi berdebar-depat saat bersalaman dengan atasannya.  Kemudian mereka dipersilakan duduk di ruang tamu.  Ruang tamu sudah penuh dengan teman-temannya dan dua orang pengawas dari dinas.   Hati keempat orang tersebut serasa berhenti, melihat situasi  ruang tamu yang penuh dan terasa tegang seperti sedang menghadiri persidangan.

“Ayo, silakan duduk,” sambut salah seorang pengawas dinas.  Keempatnya  duduk dengan wajah tersenyum yang dipaksakan.  Karena menduga-duga, apa gerangan yang terjadi di ruangan ini.  Tiga jam yang lalu, ruangan ini terasa lengang sepeti tak berpenghuni.  Kenapa sekarang kok ramai sekali?  Apalagi ada orang dari dinas datang.  Apakah ini sedang rapat ya? pikir Dewi dalam hati.

Ternyata apa yang dipikirkan Dewi tidak terbukti, suasana   kondusif,  karena sejak kedatangan kami berempat diawali dengan perbincangan yang  ringan dan sedikit diselipkan humor.  Semua merasa  rileks, dilanjutkan salah seorang pengawas mulai berbicara.

“Saya senang, bahwa semua diantara  Kalian akan refresing,”

“Secara kekeluargaan, Saya mengijinkan Bapak dan Ibu untuk pergi, tapi secara kedinasan tidak memberikan ijin untuk pergi, apalagi saat hari kerja. Meskipun itu hari Sabtu,”  kata bu Susan mengawali pembicaraan.

Mendengar  kata-kata yang dilontarkan oleh pengawas, membuat bu Ety, Anna, dan Siti wajahnya menjadi berubah seketika.  

“Kecuali, jika ada kegiatan study banding mengenai kegiatan yang berhubungan dengan  pendidikan di kota  Malang,” lanjut bu Susan dengan nada mulai naik.         

“Sanggup tidak, dilakukan study banding! Kalua sanggup, maka saya mengijinkan kegiatan ini dilaksanakan.” Bu Risna menimpali pembicaraan bu Susan.

Tidak satupun orang dapat menjawab tantangan yang diberikan oleh pengawas. Mereka merasa sedih sekali.  Apalagi tiket kereta sudah dibeli.  Tetapi tidak ada solusi lain hanya study banding satu-satunya solusi untuk mewujudkan kegiatan wisata.  Jika tidak melakukan syarat tersebut maka wisata akan batal dan semua tiket harus dikembalikan dengan resiko uang kembalian tidak utuh lagi.  Potongan yang akan diterima sebesar 30% dari total biaya yang sudah dikeluarkan.

Anna dan bu Ety meminta dipertimbangkan keputusan yang sudah diberikan oleh pengawas tersebut. Sedangkan atasan kami hanya diam saja tanpa membantu kami sebagai anak buahnya.  Dengan memohon sampai  suaranya parau menahan tangis yang mencekat di leher, Anna berbicara kepada kedua pengawas itu.  Alasan yang Panjang lebar diberikan supaya kegiatan yang telah  direncanakan  hampir empat tahun ini dapat berjalan.  Semua yang diungkapkan itu sia-sia belaka.  Sudah final, tidak dapat ditawar lagi.

Ruang tamu kantor menjadi hening  tanpa suara, meskipun banyak orang sedang duduk. Mereka diam seribu bahasa karena sulit untuk membantah apa yang diungkapkan oleh pengawas itu memang benar.  Memang tidak diperbolehkan untuk libur di hari Sabtu tanpa ada kegiatan  sekolah.  Meskipun di hari itu hanya berlangsung kegiatan Ekstakulikuler  saja.

Tiba-tiba, Dewi mengacungkan tangannya dan mulai berbicara perlahan-lahan dalam mengemukakan pendapatnya, agar mudah dipahami oleh semua orang yang hadir di ruangan ini.

“Bu, Kami akan melakukan study banding di sebuah sekolahan Inklusi di kota Malang. Saya tahu ada sebuah sekolah yang bagus dan bisa dilakukan kegiatan study banding di sana. Bukannya minggu lalu, kecamatan kita melakukan kegiatan Bintek untuk sekolah Inklusi.  Kebetulan adik saya salah seorang tenang pengajar di sana,” kata Dewi penuh antusias.

“Saya akan membuat proposal dan jadwal kegiatan yang akan dikirimkan ke dinas dan ke sekolah Inklusi di sana.” lanjut Dewi.  

Mendengar penuturan Dewi membuat semua orang tercengang tidak percaya, dengan jawaban yang diberikan. Kegiatan study banding belum ada dalam pikiran semua oaring yang hadir, mereka hanya berfikir bahwa kegiatan wisata kali ini tidak jadi karena tidak mendapatkan ijin dari dinas.

“Baiklah, jika memang ada kegiatan study banding, secara kedinasan saya mengijinkan dan persilakan,” jangan lupa untuk ijin ke dinas dan kantor kepolisian ya,” tutur bu Susan menjawab pemaparan Dewi.  

Semua orang di ruangan merasa lega. Dan saling berpelukan sambil tersenyum lebar. Tidak lama kemudian kedua pengawas berpamitan untuk kembali lagi ke kantor dinas.  Meskipun dengan wajah sedikit tidak enak untuk di lihat. Mereka keluar ruangan diiringi oleh atasan yang mengantarkan sampai ke mobilnya yang di parkirkan di depan kantor.  Kami hanya tersenyum mengiringi kepergian keduanya.  Tetapi perasaan kami bercampur aduk

Setelah kedua pengawas itu pergi, bu Immah bersiap-siap untuk pergi juga. Tetapi sebelum pergi,  meminta kami semua untuk duduk kembali ke kursi.  Beliau mengatakan bahwa kegiatan ini dipersilakan, tetapi ibu tetap tidak mengijinkan pergi berwisata ke kota malang. Meskipun diberikan dalih apapun seperti melakukan study banding ke sekolah inklusi di sana.  Dengan cepat ibu berlalu  meninggalkan kami semua setelah berbicara.

“Harusnya, Ibu jangan ngomong kayak gitu ya, sama kita.” Kalau tidak boleh, bilang saja dari awal.  Tidak perlu memanggil orang dinas” kata Anna dengan suara parau

 Perasaan semakin merana, dan galau melanda semua orang di ruangan itu.  Kenapa bisa bilang seperti ini ya, pikir Anna dalam hati. Semua orang benar-benar dibuat galau, dan keluar satu persatu untuk pulang membawa hati yang kacau dengan keputusan yang menggantung. Satu-satu orang meninggalkan ruangan, hanya tinggal empat orang yaitu Dewi, bu Ety, Siti, dan Anna. Mereka berfikir keras untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapinya.  Dibuatlah beberapa alternative  pemecahan seperti masalah, supaya dapat berjalan lancar.  Karena jika  mengembalikan tiket maka resikonya  uang  tidak akan kembali utuh, tetapi mendapat potongan sebesar 30%  sampai dengan pemecahan tetap menjalankan kegiatan dengan resiko harus membuat kegiatan study banding.

Dalam study banding, berarti harus ada waktu yang dikorbankan untuk kegiatan ini dan juga wajib membuat proposal kegiatan, surat ijin kunjungan study banding, jadwal, laporan, dan foto-foto kegiatan selama di sekolah inklusi itu pikir bu Ety.  Mereka-reka kekurangan dan kelebihan melaksanakan kegiatan wisata yang yang harus diikuti dengan study banding atau mengembalikan tiket yang sudah dibeli dengan resiko dipotong 30% tiap karcisnya.

“Gini teman-teman, besok pagi kita kembali berkumpul di ruangan ini, Saya akan mempersiapkan proposal yang diminta oleh pengawas,” kata Dewi tiba-tiba.

“Saya akan menelpon adikku, untuk melakukan pemotretan dan perijinan kepada atasannya, kalua sekolah  kita akan datang di sana untuk study banding,” lanjutnya

Semua teman-temannya setuju dengan pemikiran Dewi.  Mereka betul-betul ingin berwisata ke kota Malang sudah lama.   Alangkah menyedihkan jika persiapan yang sudah matang, tahu-tahu dibatalin dengan alasan tidak mendapat ijin dari atasan.  Mungkin saja benar, alasan dari bu Immah dan pengawas tersebut, sebab bagaimanapun sekolah tidak boleh libur di hari Sabtu tanpa ada kegiatan. Dan murid-murid dikorbankan haknya untuk belajar.

Esok paginya, semua berkas dan proposal yang diperlukan sudah tersedia di meja, dan komite sudah menandatanganinya.  Satu persatu temannya berdatangan ke kantor, sambil membawa sarapan masing-masing seperti biasa. Setelah semua hadir, Dewi menjelaskan secara teknis kegiatan yang akan berlangsung di sekolah inklusi tersebut. Foto-foto kegiatan sudah diperolehnya dari adiknya yang dikirim lewat WA semalam.  Semua sudah siap sebagai persyaratan kegiatan study banding dengan sekolah di kota malang. Semua sudah siap untuk berangkat berwisata ke Malang.

“Assalamu’alaikum,” suara seseorang yang masuk dalam ruangan kantor. Secara serempak semua menjawab salam. Bu Immah masuk dengan wajah yang khas yang membuat semua anak buah merasa nggak enak dan bikin baper. Semua menyalami dengan mencium tangan bu Immah. Bu Siti menawarkan sarapan karena saat bersalaman mulutnya penuh dengan kue lopis. Biasanya saat melihat kue lopis bu Immah langsung ikutan duduk untuk menikmati makanan tradisional jajan pasar yang sangat mengiurkan lidah. Tapi kali ini, tawaran yang menggiurkan itu hanya dijawab dengan gelengan kepala saja.

Semua orang di ruangan itu, terlihat baper, sambil berbisik-bisik membicarakan rencana keberangkatan lusa.  Senyum kecil menyelimuti suasana ruangan. Kemudian bu Immah ke luar dari ruangannya dan ikutan nimbrung di antara kami yang asyik duduk menikmati lopis. Tetapi bu Immah tidak ikutan makan kue yang lezat itu. Suasana yang awalnya terasa santai berubah menjadi sedikit tegang.

Bu Immah membuka pembicaraan  dengan menanyakan segala persiapan wisata dan study banding ke kota malang sampai persiapan kita semua yang akan berangkat. Mendengar pertanyaan dari atasan Dewi segera menjelaskan semua pertanyaan yeng rinci dan jelas. Dan yang lain membantu menjawab pertanyaan.  Semua saling berkolaborasi dalam hal menjawab. Kemudian bu Immah melanjutkan dengan membicarakan kegiatan guru-guru yang akan berwisata dengan Panjang lebar.

Bu Immah masih merasa nggan untuk menyetujui kegiatan wisata, meskipun wisata dan study banding sudah didukung dengan proposal dan foto-foto kegiatan pembelajaran inklusi di sekolah inklusi. Sedangkan kepala sekolah tempat study bandingpun sudah menyetujui dan memberikan ijin akan kedatangan tamu dari Bekasi.

Dengan Panjang lebar atasan memaparkan resiko yang akan diterimanya seandainya sekolah diliburkan gara-gara gurunya akan berwisata. Takut jika ada sidak dari dinas, orang ketiga yang akan menekan bu Immah karena telah memberikan kebijakan seperti ini.

“Bu, Rencana ini sudah lama sekali, kami semua sudah mempersiapkan jauh-jauh hari, masak dibatalin bu,” tutur Dewi sedikit parau suaranya karena menahan perasaan galau. Kemudian semua yang ada di ruangan juga ikutan memohon agar diberikan sedikit kelonggaran supaya bisa diberikan ijin kali ini saja.  Akhirnya atasan mengiyakan kegiatan wisata karena merasa iba kepada anak buahnya yang jauh-jauh hari sudah mempersiapkankan dan tinggal berangkat besok Jum’at, namun tidak memberikan ijin secara kedinasan.

Semua orang bergembira dengan keputusan yang diberikan atasan, meskipun keputusannya menggantung. Perasaan untuk rekreasi membuat semua  kata-kata bu Immah tidak diambil pusing. Memang seperti itu karakter yang ada pada diri bu Immah, selalu merasa khawatir dengan  kegiatan anak buah yang dirasanya kurang pas.

            Waktupun telah tiba untuk acara berwisata, semua guru dan keluarga sudah berkumpul di stasiun Senin, perasaan bahagia mewarnai raut wajah orang-orang yang akan berangkat berwisata. Anak-anak berlarian dan bercanda dengan yang lain. Mereka memang sudah terbiasa, ketika bertemu dan berkumpul selalu bermain bersama seperti keluarga besar. Meskipun bertemu, hanya saat kumpul bersama saja.  Tetapi jarangnya bertemu tidak membuat mereka untuk tidak saling kenal. Keakraban sudah mewarnai persahabatan anak-anak sejak orang tuanya bergabung menjadi keluarga sekolah ini dan  terikat dengan pekerjaan yang sama.

            Para bapak juga berkumpul sendiri membentuk kelompok yang  tidak kalah denga anak-anak.  Kecerian dan kebersamaan mewarnai wajah mereka yang tergambar dengan asyiknya ngobrol sambil minum kopi bersama.  Para ibu juga memiliki persamaan dengan bapak-bapak dan para anak. Meski jarang bertemu, tetapi sekali bertemu membuat kelompok yang solit dan asyik untuk ngobrol bersama.

            “Siapa nich yang belum datang, sebentar lagi kereta akan tiba,” seru Dewi kepada yang lain.

”Bu Siti belum datang, coba dibel siapa tahu sudah di jalan,” kata Dewi melanjutkan pembicaraannya. 

            Kemudian Anna mengeluarkan HPnya untuk menghubungi Siti dan keluarganya. Kedua anaknya masih kecil, sehingga terkadang merasa repot karena sibuknya mengurusi keduanya, hal ini membuatnya datangnya  terlambat.

            Kereta jurusan Jakarta – Surabaya sudah tiba, suara terdengar menggema untuk meminta penumpang memasukin kereta.  Dewi meminta keluarganya dan seluruh temannya untuk masuk dan mencari tempat duduk yang sesuai dengan tiket kereta. Tempat duduk yang saling berdekatan, memudahkan dalam berkonfirmasi kepada temannya maing-masing. Kesibukan mewarnai seluruh penumpang yang akan memasukin pintu masuk kereta.

            Saling berdesakan dan ingin lebih dulu masuk pintu kereta mewarnai pemandangan di sore itu. Meskipun saling berjubel, Dewi dan Anna sedikit merasakan panik karena Siti dan keluarganya juga belum datang.  Perasaan galau, cemas dan berdebar menyelimuti hati Dewi, mulutnya berkomat-kamit membaca doa agar temannya segera datang. Sudah sepuluh menit di luar kereta untuk menunggu Siti tidak kunjung datang. Perasaan panik menyelimuti hatinya, waktu sudah tiba untuk berangkat tetapi Siti dan keluarganya belum juga datang.

            Dewi dan Anna masuk ke kereta untuk bergabung dengan teman-teman yang lainnya. Tetapi wajahnya menunduk sedih. Semua menanyakan kedatangan Siti tetapi hanya dibalas dengan gelengan kepala oleh Anna.

            “Mungkin karena atasan kita tidak menyetujui kali ya, sehingga ada yag ketinggalan.”kata Tuti dengan wajah sedih.

Semua merasa bersalah pada atasan, karena ketikijinannya untuk pergi berwisata, membuat salah seorang temannya dan keluarganya ketinggalan dari kereta.  Mereka semua duduk dengan keluarganya masing-masing. Anak-anak masih ngriung bersama di tempat duduk bu Siti yang terlihat kosong.  Dengan  asyiknya mereka bercanda dan bermain sama gadgetnya tanpa merasa sedih.

            Kereta berjalan terus tanpa henti, tetapi perasaan Dewi dan Anna merasa ada yang mengganjal. Hanya berdua yang kurang ceria dibandingkan teman-temannya. Ceirita dan tawa mewarnai ruangan gerbong enam.  Lebih dari separuh tempat duduk penuh dengan  guru-guru dan keluarganya, sehingga suasanya tidak terasa asing.  Saling menimpali dan bertukar bekal makanan terjadi di gerbong ini.  Suara tawa anak-anak mewarnai suasana sore yang cerah.

            Gerbong yang bersih, suasana yang sejuk oleh dinginnya AC ruangan gerbong, tempat duduk berwarna abu-abu yang empuk dengan berderet dua-dua  menambah semaraknya perjalanan wisata. Terasa lega dan hati merasa bahagia karena rencana yang sudah lama sekali diinginkan baru kali ini dapat terlaksana, meskipun dengan  usaha yang melelahkan.

Pintu gerbong dibuka oleh petugas kereta untuk mempersilakan masuk penumpang yang sedang dibimbingnya.  Masuklah serombongan penumpang yang sibuk dengan menggandeng dikanan-kirinya anak-anak kecil. Betapa terkejutnya Dewi dan teman-temannya, ternyata yang datang adalah Siti dan keluarganya. Secara serempak mereka yang melihat mengucapkan syukur secara bersamaan melihat kedatangan temannya yang dari tadi ditunggu-tunggu.

Lengkaplah sudah kebahagiaan semuanya yang sedang melakukan perjalanan wisata ke kota Malang. Tidak ada rasa sedih lagi karena temannya tertinggal karena terlambat datang. Senyum ceria dan bahagia mewarnai semua penumpang. Terasa lega hatinya untuk melangkahkan kaki menuju kota Malang. Sekian…..

 

No comments:

Post a Comment