Sunday, October 17, 2021

BERPETUALANG KE NEGERI SATWA

 

PETUALANGAN SIBOY

 


Hari sudah menjelang siang. Tapi semua keluargaku masih tetap terbaring.  Dengan cepat kuperiksa kakakku yang bernama Joy. Dia hanya membuka matanya sebentar. Setelah melihatku, dirinya kembali tidur. Mata ibuku juga masih terpejam.  Melihat semua masih bermalas-malasan, aku ingin keluar dari tempat ini. Mereka tinggal di sebuah kardus di pinggir jalan.

Boy adalah seekor kucing kecil berwarna coklat dan putih.  Dengan hati-hati  dia ke luar dan mulai berjalan menyusuri jalanan di depan kardus.  Di mana-mana banyak genangan air. Tidak terasa Boy sudah berjalan menjauhi rumahnya. Kakinya merasa lelah. Dia berhenti dan memeriksa sekitarnya. Betapa bingung hati SiBoy. Ke mana arah untuk pulang ke rumah, pikirnya.

“Aduh…. Saya takut.  Harus lewat mana ini?”

“Nanti ada manusia nggak ya?”

“Ibu…Ibu… Saya takut  Bu!” teriaknya sambil berlari menyusuri jalan.

Boy terus berlari mengikuti jalan dan naluri hatinya. Mulutnya terus memanggil-manggil ibunya. Tiba-tiba gubrak….. Boy masuk dalam sebuah lubang. Dia berteriak-teriak minta tolong. Tapi tak ada yang menjawab teriakannya. Tubuhnya menjadi lemas karena takut.

Sementara ibu kucing dan Joy berteriak-teriak mencari Boy yang telah meninggalkan rumahnya. Ibu menyusuri jalan di depan rumah. Waktupun sudah menjelang malam, mereka belum juga bertemu dengan Boy. Ibu merasa khawatir akan keselamatan anaknya.

Ibu menyesal dengan apa yang sudah dilakukannya tadi pagi. Biasanya ibu mengajak  anaknya bermain. Ibu kucing terus memanggil-manggil anaknya. Tapi tidak ada jawaban dari sang anak. Sampai waktupun berganti menjadi sore. Ibupun memutuskan untuk kembali ke rumah, karena berfikir Boy sudah pulang ke rumah terlebih dahulu.

“Boy.. ke mana Kamu sayang ?” katanya pelan.

“Ibu.. siapa tahu adik sudah diambil orang ya?” lanjut Joy

“Sayang… berfikirlah yang baik, supaya kita lebih tenang,”jawab ibu

Mereka berdua masuk rumah kardus kembali dengan pikiran masing-masing. Ibu meminta Joy untuk segera tidur dan jangan ke luar dari rumah sebelum ibunya kembali.

“Kakak, Ibu akan mencari .  Jangan sekali-kali ke luar dari rumah, ya!” kata ibu kucing

“Jika ada bahaya, teriaklah yang keras!” lanjut ibu

“Baik bu,”sahut Joy dengan suara sedih.

“Terima kasih sayang, Ibu percaya kamu bisa menjaga dirimu sendiri,” lanjut ibu sambil mencium dan menjilati anaknya.

Ibu keluar dari kardus perlahan-lahan. Matanya yang tajam diarahkan ke segala penjuru. Kembali ibu menyusuri jalanan dan mulai mengikuti nalurinya. Mata dan telinga dipasang baik-baik dengan harapan dapat menangkap tanda-tanda keberadaan anaknya. Yang terdengar hanya suara kendaraan yang lalu lalang sepanjang jalan.

Sementara tubuh  Boy terasa hangat dan matanya sangat silau oleh sinar. Mulai dirinya membuka mata secara perlahan dan memeriksa sekelilingnya. Ternyata dirinya berada di pinggir jalan beralaskan kardus di bawah lampu jalan.  Pantas tubuhnya terasa hangat, sebab tertidur di atas sebuah kardus. Entah siapa yang menolongnya dari lubang.

Boy sangat bahagia dapat ke luar dari lubang yang menakutkan. Diapun kembali berlari sambil memanggil-manggil ibunya. Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari petunjuk. Tubuhnya semakin lemah. Rasa lapar mulai memanggilnya. Boy bingung bagaimana untuk mendapatkan makanan. Selama ini dirinya hanya menerima makanan yang disediakan oleh ibunya. Diapun belum tahu bagaimana mendapatkan makanan sendiri.

Sampailah Boy dipinggir sebuah kolam kecil. Dilihatnya kolam itu ada ikannya. Tetapi dia bingung bagaimana cara menangkap ikan di kolam. Dia berusaha menangkap ikan dengan cakarnya. Tidak seekor ikanpun di dapatkannya. Gerakan ikan ternyata lebih cepat daripada tangannya yang berusaha untuk menangkapnya.

Rasa kesal dan lapar mulai mencul dalam dirinya. Dengan sekuat tenaga Boy melompat di atas ikan yang sedang berenang. Tiba-tiba, byuur… Boy melompat ke dalam kolam dan mendapatkan seekor ikan yang sangat besar. Mulutnya menggigit ikan dan kakinya berusaha untuk berenang ke tepi kolam. Setelah sampai pinggir, diapun melompat ke batuan di pinggir kolam

“Aduh... Sakit juga kakiku terbentur batu ini” katanya

“Tapi kalau tidak seperti ini, saya tidak dapat makan,”lanjutnya

Boy mulai memakan ikan yang berada di mulutnya. Sampai hampir semua ikan itupun habis. Hanya tersisa kepala dan duri saja. Boy merasa kekenyangan dengan menyantap seekor ikan yang besar. Setelah merasa kenyang dan tenaga mulai terkumpul kembali, Boy dikejutkan oleh suara dari arah belakang. Dengan cepat Boy menoleh ke sumber suara.

Dilihat ibunya telah berada di belakangnya. Betapa bahagia hati SiBoy dapat menatap kembali wajah sang ibu. Ibupun merangku dan menjilati anaknya dengan penuh kasih sayang.

“Boy… Jika ingin pergi atau bermain, sebaiknya minta ijin terlebih dahulu sama orang tua.” Kata ibu pada Joy yang menangis.

“Iya, Ibu. Boy minta maaf dan tidak akan mengulangi perbuatan seperti ini lagi.”Jawab SiBoy…..


 

No comments:

Post a Comment